Rabu, 23 Oktober 2013

Kisah uang 5.000 kuno

Saya lagi boring nih.. Pada mau dengerin cerita saya gak? Ini salah satu dari 1001 karangan bertema 'gak jelas' yang menuh-menuhin memori flashdisk saya.

Tapi, jelas aja, biarpun kalian bilang gak mau baca cerita saya, pada akhirnya akan saya posting disini juga *ngeheheh* so, it's time for reading!

---------------------------------------------------------------------------

Kisah uang 5.000 kuno

     Hari itu aku sedang membersihkan kamarku yang berantakan. Semua berserakan begitu saja. Seragam putih abu-abu, sepatu, kaus kaki, buku-buku pelajaran.. Kamarku tak beda dengan kapal pecah!
     Sambil menghela nafas, aku memandangi kamarku sekali lagi, dan mulai merapikan barang-barangku. Seragam kugantung kembali ke tempatnya. Sepatu dan kaus kaki kuletakkan di rak sepatu. Buku-buku pelajaran ku tata rapi di meja belajarku.

     Pluk! Sesuatu jatuh di dekat kakiku saat aku membuka laci meja belajarku. Aku meliriknya sekilas. Hanya sebuah dompet pink bergambar Barbie yang kelihatan sudah sangat tua dan usang. Aku sendiri tidak pernah membuka laci mejaku sejak SD kelas 3, jadi maklum saja jika ada banyak 'barang antik' di dalam laciku yang berdebu itu.
     Aku memungut dompet pink itu. Kubuka. Ada fotoku di dalam sana. Begitu centilnya bergaya di depan kamera. Aku tertawa. Betapa lucunya melihat fotoku beberapa tahun lalu!
     Iseng-iseng, kubuka retsleting tempatku biasa meletakkan uangku. Ah, ada uang disana! Uang 5.000 yang kuno dan sudah kusut terlipat-lipat.
***
     "Ma, Putri mau minta tambahan uang jajan!" gadis cilik itu menghentak-hentakkan kakinya dan mencari Mama-nya di dapur.
     "Ada apa, Put?" mama tampak keheranan ketika putrinya menitikkan air mata.
     "Putri malu, Ma! Lisa bisa mentraktir teman-temannya makan di kantin! Sedangkan Putri hanya bisa bawa bekal dari rumah! Uang jajan sih, ada. Tapi itu kan cuman 1.000! Pokoknya, Putri pengen tambah uang jajan!" kata gadis bernama Putri itu sambil berkacak pinggang. Merajuk.
     "Putri, Putri.. Ayo, sini. Kita duduk dulu. Coba Putri cerita ke Mama. Ada apa kenapa sampai Putri merajuk?" dengan lembut Mama mengajak Putri untuk duduk.
     "Putri sudah menabung dari seminggu yang lalu. Ini kan hari ulang tahun Dani. Putri rencananya mau mentraktir Dani dan teman-temannya buat minum es teh di kantin. Tadi malam, saat Putri mencari uang tabungan Putri itu, uangnya hilang! Tapi, Putri sudah terlanjur janji dengan Dani. Sekarang, Dani dan teman-temannya malah menjauhi Putri dan mengatai Putri pembohong," cerita Putri sambil terisak.
     Mama merenung sejenak. Mama bukannya orang tak mampu. Papanya Putri juga kerja menjadi direktur di sebuah perusahaan besar. Mama sendiri juga punya pekerjaan katering yang laris. Tapi, masalahnya, Mama takut kalau salah ambil langkah terhadap masalah putrinya ini. Kalau Putri diberi uang jajan tambahan, Mama takut Putri tidak bisa mengatur pengeluarannya. Putri kan masih kelas 3 SD, belum begitu mengerti bagaimana sulitnya mencari uang. Tentu Putri akan boros. Tapi, kalau tidak diberi, bisa-bisa Putri ngambek. Mengurung diri di kamar sepanjang hari. Wah, bisa gawat kalau begitu!
     Tiba-tiba, Mama mendapat ide. Mama mengambil sebuah dompet di kamarnya. Tadinya Mama berniat memberikan itu pada Putri saat Putri berulang tahun, sebagai pengganti dompet Putri yang sudah sobek-sobek. Tapi, Mama mengeluarkannya sekarang.
     "Putri. Ini Mama memberi Putri uang 5.000. Tapi, ada syaratnya! Putri hanya boleh menggunakan uang ini jika Putri sudah benar-benar terpaksa. Misalnya, Putri lapar tetapi uang jajannya sudah habis. Nah, saat itu barulah Putri boleh menggunakan uang ini,"
     Mata Putri berbinar-binar memandangi uang 5.000 itu. 5.000 adalah jumlah yang cukup besar untuk anak kelas 3 SD seperti Putri. Bisa digunakan untuk membeli majalah anak, membeli 2 buku tulis, membeli kotak pensil baru, dan tentunya.. Bisa untuk mentraktir Dani dan teman-temannya minum es teh di kantin!
     "Ini, uangnya Mama letakkan disini. Mama harap Putri bisa menggunakan uang ini dengan baik,"

     Keesokan paginya, Putri menimang-nimang uang 5.000 itu. Kebetulan, Dani sedang duduk-duduk di kantin bersama teman-temannya. Ingin sekali rasanya Putri mendatangi Dani dan mentraktirnya minum es teh. Putri meletakkan uangnya di dalam dompet, lalu berjalan keluar kelas.
     "Dani.."
     "Eh, Putri. Ada apa? Sudah, jangan mengatakan kamu ingin mentraktirku minum lagi. Aku tidak memaksamu untuk memberiku hadiah ulang tahun kok," Dani tersenyum kepada Putri.
     "Bukan begitu, Dani.. Eh, Dani, tunggu dulu!" Putri berusaha mengejar Dani dan teman-temannya yang berjalan keluar kantin.
     Dengan langkah berat, Putri meninggalkan kantin, menuju ke kelasnya. Mama benar. Sebaiknya, uang itu jangan digunakan untuk hal-hal yang tidak penting, pikir Putri.
     Sejak saat itu, Putri selalu menyimpan dompetnya di laci mejanya. Putri tidak peduli, meskipun ia ingin membeli kotak pensil baru, meskipun ia ingin membeli majalah anak kesukaannya, uang itu tidak akan pernah ia gunakan untuk hal-hal yang tidak penting.
***
     Air mataku menetes. Teringat wajah Mama. Kisah uang 5.000 kuno ini, tidak akan pernah aku lupakan.

     Aku berdiri. Kuselipkan dompet itu di dalam lemari bajuku. Lalu, aku berjalan menuju meja telepon. Ingin sekali rasanya aku menelepon Mama, untuk melampiaskan rinduku yang sudah lama kupendam karena kesibukan sehari-hari..

---------------------------------------------------------------------------

Yap, ceritanya berakhir sudah. Gimana, bagus gak? Atau gak jelas? Apapun itu, pleasee, kasih kritik saran dan pendapatmu lewat forum komentar yaa..

See you~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar